Kurang lebih sepekan yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Surabaya untuk menghadiri acara WikiCendekia 2026 sebagai pemateri. Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali memijakkan kaki ke kota ini.
Kali pertama saya berkunjung ke Surabaya yaitu pada tahun 2016 ketika diundang oleh pihak Universitas Airlangga (Unair) untuk menjadi pembicara. Karena tidak terbiasa dengan panasnya cuaca Surabaya pada waktu itu, imun tubuh saya melemah dan alhasil jatuh sakit ketika seusai acara.
Terlepas dari itu, kota Surabaya adalah titik awal perjalanan yang dapat menghantarkan saya hingga di titik ini. Banyak orang berpendapat bahwa Surabaya itu rasa metropolitan, tetapi cenderung lebih perlahan. Setelah dipikir-pikir kembali, menurut saya pernyataan itu benar apabila dibandingkan dengan kota Jakarta.
Toh, wajar saja karena Jakarta adalah pusat dari perputaran ekonomi nasional.
Sepanjang perjalanan di kereta menuju Surabaya, wajah saya berseri-seri karena tidak sabar hendak tiba di tujuan. Saking senangnya, saya tidak dapat rehat sama sekali. Saya pun membuka laptop agar mata ini cepat lelah untuk dapat rehat, tetapi itu sia-sia belaka.

Pun setelah tiba di Surabaya dan meletakkan koper di hotel, saya tidak merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk ikut sesi makan malam bersama peserta WikiCendekia 2026. Sebagai konteks, para peserta yang hadir merupakan pengurus proyek Wikimedia dari seluruh bahasa di Indonesia.

Gambar oleh: Ayu (WMID), diunggah oleh Dian (WMID); lisensi: CC BY-SA 4.0.
Seusai acara makan bersama, saya memutuskan untuk bergegas kembali menuju hotel dengan berjalan kaki. Hawanya terasa panas, tetapi saya merasa nyaman karena jalan yang dilalui memiliki trotoar luas dan memadai. Karena hal itu, sejenak saya lupa bahwa kota ini sebenarnya termasuk dalam salah satu kota metropolitan di Indonesia.
Tak jauh dari hotel saya menginap, terdapat pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza (atau disebut TP) yang selalu saya kunjungi selama di Surabaya. Pusat perbelanjaan ini sangat besar, bahkan hingga diberi angka dari TP 1 hingga 6. Tak jarang saya dibuat tersesat olehnya.
Bisa dikatakan TP ini mirip dengan Pondok Indah Mall (atau disebut PIM) yang diberi angka dari PIM 1, 2, dan 3.
Terlepas sering dibuat terlena, saya kembali disadarkan dengan kenyataan bahwa kemacetan juga berlaku di kota ini. Rekan saya pernah berkelakar kemacetan Surabaya lebih mendingan jika dibandingkan dengan Jakarta. Namun, tetap saja kemacetan adalah sesuatu yang pasti dihindari oleh sebagian besar dari kita.

Karena dalam rangka dinas, saya hanya empat hari berada di Surabaya. Namun, saya mendapat kesempatan untuk singgah sehari lagi di kota ini. Tidak perlu berpikir panjang, saya menggunakan kesempatan ini untuk mengunjungi Depot Bu Rudy di Dharmahusada. Selain untuk makan malam bersama teman-teman, saya juga hendak membeli oleh-oleh di sana.

Sejujurnya saya agak sedih harus kembali pulang ke Jakarta, karena saya sudah merasa kerasan (nyaman) di Surabaya. Meskipun sama-sama metropolitan, tetapi saya merasa kehidupan di Surabaya lebih pelan dibanding di Jakarta. Mungkin karena sudah lama di Jakarta, saya menjadi jenuh dengan cepatnya kota itu.
Terlepas dari tulisan ini yang terkesan meromantisasi Surabaya, saya tetap menyadari bahwa kota ini memiliki problematikanya tersendiri. Salah satunya adalah sangat minimnya akses transportasi umum di sana. Sepanjang pengamatan saya, sangat sulit untuk menemukan transportasi umum yang reliabel seperti di Jakarta.
Ketika hendak mengunjungi suatu tempat yang jauh dari hotel, setiap saat saya harus menggunakan aplikasi ojek maupun taksi daring. Bisa saja saya menunggu bus, tetapi rentang waktu kedatangannya jauh lebih lama. Sebagai penegasan, ini perspektif saya sebagai orang yang tinggal di Jakarta selama lebih dari 20 tahun.
Saat sudah tiba di Stasiun Gambir, waktu menunjukkan pukul 5 sore yang notabene adalah jam pulang kantor. Dalam perjalanan pulang, saya mengirimkan video kemacetan di Jakarta kepada teman di Surabaya. Sedikit informasi, ia memiliki keinginan besar untuk pindah ke Jakarta.
Setelah ia melihat video tersebut, niat untuk pindah ke Jakarta mulai goyah. Ia tahu bahwa kesempatan di Jakarta lebih besar, tetapi tingkat stresnya juga demikian. Kemudian ia juga bertanya kepada saya kesempatan kerja secara jarak jauh dari rumah (remote) tanpa harus meninggalkan Surabaya.
Nah, sekarang Anda tahu mengapa saya merasa kerasan dengan Surabaya dan pada akhirnya membuat tulisan ini, kan.

Tinggalkan komentar Anda