Dalam

Kepo

Kepo

Semenjak saya memutuskan untuk meninggalkan media sosial, ternyata banyak sekali “huru-hara” di sana yang tidak saya ketahui. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan rekan di suatu kafe sembari bertanya hal ini:

“Eh, lu tahu kan soal ribut-ribut antara K-netz dan SEAblings?”

Saya menjawab dengan singkat, “tidak”. Kemudian matanya terbelalak seolah tidak percaya akan ucapan saya itu. “Lu lama di goa atau gimana? Di medsos viral banget soal itu”, jawabnya sambil terkejut. Setelah menjelaskan cukup panjang bahwa saya telah meninggalkan media sosial, maka semakin tidak percayalah ia akan ucapan saya.

“Gak kekinian banget lu, orang zaman sekarang harus tahu apa yang terjadi di medsos”, jawabnya dengan tegas dan yakin.


Ignorance is bliss.

Peribahasa tersebut merupakan petikan dari sebuah puisi karya Thomas Gray dengan judul Ode on a Distant Prospect of Eton College (1742). Secara sederhana, “ignorance is bliss” memiliki arti jika kita tidak mengetahui suatu hal tertentu, maka kita akan merasa bahagia atau tidak begitu ketakutan.

Apabila ada yang mengatakan bahwa saya antipati, tone deaf, atau tidak peduli dengan keadaan sekitar, mohon pengertiannya terlebih dahulu.

Saya tidak bermaksud untuk menutup mata dan telinga akan segala hal, melainkan saya secara sadar hanya memilih informasi yang sekiranya berdampak signifikan bagi hidup saya dan orang terdekat. Selain dari itu, saya memutuskan untuk tidak menghiraukannya agar tidak mengalami khawatir dan ketakutan yang berlebih.

Sebagaimana dahulu saya sangat getol bermedia sosial, semua informasi yang tersaji di sana saya konsumsi. Memang saya jadi tahu akan segala hal, tetapi di sisi lain saya menyimpan rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Apakah semua informasi (yang saya khawatirkan) tersebut akan memengaruhi hidup saya secara langsung? Belum tentu.

Tidak percaya dengan perkataan saya bahwa sosial media bisa memicu ketakutan dan hal negatif lainnya? Silakan cari pembahasan ilmiahnya di Google, atau kalau enggan mencari maka diperkenankan untuk bertanya di ChatGPT dan layanan sejenis.

Saat ini, sebagian besar informasi saya dapatkan dari media arus utama seperti Harian Kompas, Tempo, dsb. Toh, saya tidak akan membaca semua informasi di sana sekaligus. Semua itu kembali kepada mood dan waktu senggang yang tersedia.

Terkait keributan antara K-netz dan SEAbling, itu pun saya ketahui dari media-media tersebut. Bukan dari media sosial yang jadi ground zero-nya.

Melalui tulisan ini, saya tidak memaksa Anda untuk seketika berhenti mengikuti semua informasi di media sosial. Jika Anda merasa bahwa informasi di sana adalah penting adanya, sah-sah saja untuk mengikuti semua itu. Anda berhak untuk seperti itu, saya pun berhak untuk seperti ini. Mind your own business.


Kembali ke situasi saya bersama rekan di sebuah kafe. Saya berusaha mengalihkan topik diskusi agar tidak terjadi keributan. Untung saja ia mengiyakan saran saya tersebut dan pandangannya kembali tertuju pada layar ponselnya.

Saya bersyukur kejadian ini tidak berlanjut sampai hancurnya hubungan pertemanan. Selain itu, saya juga tidak ingin mengurusi apa saja informasi yang ia konsumsi hingga menyulut diskusi seperti ini. Semoga ke depannya kita dapat menghargai boundaries dan preferensi masing-masing.

Tulisan ini dimuat dengan izin dari yang bersangkutan.


Discover more from Nohirara Swadayana

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To respond on your own website, enter the URL of your response which should contain a link to this post's permalink URL. Your response will then appear (possibly after moderation) on this page. Want to update or remove your response? Update or delete your post and re-enter your post's URL again. (Find out more about Webmentions.)