Sejak dini, saya dididik agar senantiasa supel yang artinya adalah pandai bergaul dan berteman dengan siapa saja. Benar pada awalnya, tetapi semakin dewasa saya berpikir sebaliknya. Berteman maupun memilih sahabat itu harus milih-milih.
Dari sisi psikologi, terdapat sebuah fenomena groupthink yang sederhananya adalah seseorang cenderung untuk menyesuaikan pola pikir kelompoknya, terlepas pola pikir tersebut bisa jadi irasional maupun tidak tepat.
Bukan sesuatu yang aneh ketika suatu lingkar pertemanan dapat membentuk pandangan terkait isu, permasalahan, hingga individu tertentu. Pada akhirnya, kita tetap harus mampu untuk menyaring hal yang tidak baik dari lingkar pertemanan itu sendiri.
Lain ladang, lain ilalang; lain teman, lain pula dengan sahabat. Sebagai yang dianggap sebagai tempat curahan hati dan sebagian hidup kita, sosok sahabat haruslah lebih bisa dipercaya. Alhasil, kriteria untuk memilih sahabat lebih ketat jika dibandingkan dengan teman biasa.
Intinya, baik teman maupun sahabat harus dipilih dengan baik dan bijak. Terlebih kepada mereka yang mengklaim sebagai sahabat dan mengayomi, tetapi pada nyatanya justru malah menghakimi.
Akhir kata, jangan mudah percaya begitu saja kepada mereka.

Tinggalkan komentar Anda