Dalam segala aspek kehidupan, kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Apapun dampak yang dirasakan pada akhirnya, hal ini yang tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Salah satu dari pilihan itu adalah memutuskan untuk menikah atau setia untuk melajang.
Seperti biasa, ketika sedang rehat bekerja saya berselancar singkat di YouTube. Di halaman utamanya, saya menemukan satu video ini.
Hingga tulisan ini terbit, narasumber di video tersebut memutuskan untuk hidup melajang. Baginya, hidup melajang bukanlah hal yang dianggap aib, melainkan sebuah pilihan hidup yang harus dihargai dan dirayakan. Sebagai catatan, ia tidak anti dengan pernikahan.
Setelah menonton video tersebut, saya merasa menemukan suatu katalis untuk memantapkan pilihan agar setia dalam kelajangan. Toh, karena saya terlalu berfokus (juga semangat) pada pekerjaan dan hobi, tidak terlintas di dalam benak ada perasaan kesepian.
Seperti yang saya ungkapkan di sini, saya tidak membenci pernikahan. Justru menurut saya secara pribadi, mereka yang memutuskan untuk menikah adalah sosok yang luar biasa. Terlebih lagi pada kondisi saat ini yang sangat tidak menentu, baik dari kondisi ekonomi dan hal lainnya yang mengikuti.
“Apa tidak malu dengan teman-temanmu yang sudah berkeluarga?”
Buat apa saya merasa malu? Ini adalah keputusan saya sendiri yang pada saat ini sudah dipertimbangkan dengan baik. Saya tahu niat Anda baik, tetapi perlu dipahami bahwa suatu pilihan belum tentu cocok untuk semua orang. Saya pun tidak memaksa Anda untuk setuju dengan pilihan saya, kan?
Apakah nanti saya akan berubah pikiran dan memutuskan untuk menikah? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun, setidaknya untuk saat ini saya tetap melajang.

Tinggalkan komentar Anda