Tiada angin dan hujan, salah satu kolega mengirimkan pranala ini ke layanan perpesanan internal kantor. Pranala tersebut mengarah ke situs web berisi pesan agar tidak membalas pesan hanya mengandalkan hasil dari prompt aplikasi kecerdasan artifisial (AI).
Sebagai individu yang memilih untuk tidak ingin terseret arus FOMO dari penggunaan AI, saya langsung menyimpan pranala ini agar suatu saat bisa digunakan ketika dibutuhkan.

Secara garis besar, situs web tersebut mengajak kita untuk tidak melakukan salin tempel (copy paste) dari hasil prompt AI semata. Kita juga diajak untuk selalu gunakan pemikiran kita sendiri ketika hendak menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas, hingga menyatakan pendapat atau argumen.
Seharusnya kita sudah paham bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti isi kepala kita. Jujur saja, saya pun jengah untuk menuliskan ini, tetapi harus diingatkan berulang kali hingga kita benar-benar memahaminya.
Situs web tersebut menyediakan dua versi lainnya, yaitu marah-marah dan guru atau pengajar. Menurut saya secara pribadi, saya lebih suka versi marah-marah karena lebih mengena bagi yang membacanya. Versi tersebut sangat menggambarkan isi pikiran saya tentang penggunaan AI.
“Kalau balesan lo dimulai pake ‘Ini kata Claude:’ atau langsung delapan ratus kata teks ChatGPT tanpa diedit, selamat: lo baru aja ngebuktiin kalau otak lo cuma jadi perantara doang.”
Bagian ini memang mantap nian. 😂

Tinggalkan komentar Anda