Saya teringat akan lagu “Xa Wang Xie Na Wang” yang dinyanyikan oleh salah Azmi Pandemi (sekarang Azmi Azzami). Lagu tersebut mengajarkan tentang makna kehidupan, serta ingat akan Tuhan.

Terlepas judul lagu tersebut seperti Bahasa Mandarin, sebenarnya itu dibaca sawang sinawang. Singkatnya, ungkapan itu berasal dari Bahasa Jawa tentang perilaku membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain.

Anggap saja kita melihat seseorang yang bisa jalan-jalan ke luar negeri dan memamerkannya di media sosial, kemudian kita merasa iri akan pencapaian orang tersebut. Namun, di balik itu sebenarnya ia harus berhutang dan nominal tabungan yang dimiliki sedikit jumlahnya.

Ini sangat klise, tetapi media sosial memperparah fenomena ini. Kita dengan mudahnya merasa iri dan membanding-bandingkan dengan orang lain yang pencapaiannya “wah”. Akibatnya, kita merasa rendah diri atau mencoba untuk seperti itu dengan menghalalkan segala cara.


Saya membaca artikel opini dari salah satu guru yang diterbitkan di Harian Kompas. Termaktub di sana dua kalimat yang membuat saya merenung cukup lama.

Kita mungkin tidak sedang menjadi lebih miskin. Kita hanya hidup di tengah standar yang semakin mahal.

“Mahalnya Menjadi Orang Biasa“, oleh Fajri Hamid di Harian Kompas.

Terlepas saya sudah tidak menggunakan media sosial pribadi, tetap saja saya tidak lepas oleh pengaruhnya begitu saja. Ketika saya mendengar pencapaian orang lain, terkadang saya merasa iri baik secara sadar maupun tidak.

Bahkan dalam satu kesempatan, saya tidak mood untuk beraktivitas seperti biasa. Untung saja produktivitas kerja tidak begitu terganggu olehnya.

Pada akhirnya, kita memiliki kehendak bebas yaitu untuk terpengaruh dan rendah diri akan pencapaian orang lain, atau memilih untuk tidak peduli dan merasa cukup akan yang dimiliki. Kalau selalu menuruti ego, maka tidak akan ada rasa puas di dalam diri sampai kapan pun.

Saya sendiri masih belajar untuk merasa cukup dan bersyukur. Semoga kita pula senantiasa demikian, ya.

Lema “kafi” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia: “cukup; sempurna”.


Discover more from Nohirara Swadayana

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To respond on your own website, enter the URL of your response which should contain a link to this post's permalink URL. Your response will then appear (possibly after moderation) on this page. Want to update or remove your response? Update or delete your post and re-enter your post's URL again. (Find out more about Webmentions.)