Gelas Kopi yang Menjadi Temanmu

Pukul 9 pagi, kamu kesiangan lagi masuk kantor. Tanpa berpikir panjang kamu ambil handuk bergegas mandi tanpa sarapan nasi atau roti. Setiap pagi kamu selalu sarapan dengan kopi di sebuah kedai kopi ternama, meskipun kamu tahu gajimu sedikit dan masih mencicil hutang kartu kredit yang tak kunjung lunas.

Namun, kamu tidak seperti kebanyakan orang yang langsung membuang atau membiarkan gelas kopinya di atas meja setelah selesai meminumnya. Kamu selalu memasukkan gelas kopimu ke dalam tasmu, membawanya pulang, dan meletakkannya di kos kamarmu. Para penghuni dan bahkan ibu kosmu terheran-heran akan kebiasaanmu itu.

“Saya tidak ingin kesepian di sini, biarkan ia menjadi teman saya”, jawabmu selalu demikian apabila mereka mulai bertanya secara langsung kepada dirimu.

Hampir setengah kamarmu penuh dengan gelas kopi, menjadikan ruangan kosmu dengan ukuran 3×4 meter terasa sesak dan bau kopi yang menyengat di mana-mana. Terlepas dari semua itu, kamu tidak menghiraukannya dan tetap bisa tidur dengan pulas.


Seketika tiba di kantor, sudah pasti atasanmu mengomel bukan main. Berhubung kamu membeli dua kopi ukuran besar ketika sarapan dan masih tersisa satu di tanganmu, kamu sesap kopimu supaya tetap tenang dan fokus bekerja. Rekan kerjamu juga marah-marah karena rencana kerja tim menjadi berantakan, seketika itu pun kamu menyesap kopimu sedikit lebih banyak agar tidak tersulut amarah.

Setelah 20 menit merasakan ketenangan, tiba-tiba kamu dipanggil oleh atasanmu untuk scrum meeting. Semua rekan kerjamu bisa memberikan informasi terkini tentang apa yang dikerjakan dengan lancar, tetapi tidak dengan dirimu. Kamu merasa bingung, keringat dingin, dan berbicara dengan terbata-bata. Agar bisa menutupi rasa malu, kamu langsung menghabiskan kopi yang tadi kamu beli untuk mengalihkan pikiranmu.

Lokasi tempat kamu bekerja berada di kawasan elit, sebuah kelegaan bagimu karena bisa dengan mudah menemukan kedai kopi ketika kamu membutuhkannya. Ketika usai membeli kopi di sana, kamu langsung membuka ponsel dan melihat ada pesan masuk dari kerabatmu. Intinya ia meminta uang darimu untuk beli laptop baru, serta biayanya yang tidak sedikit.

Oh, iya. Kerabatmu ini pengangguran dan tidak pernah ada inisiatif sedikit pun untuk melamar pekerjaan. Maka dari itulah, ia selalu meminta uang darimu supaya tetap bisa makan enak, punya gawai (gadget) terkini, dan berkumpul sama teman-temannya yang tajirnya minta ampun. Tidak seperti dirimu yang masih menggunakan ponsel lawas dan hanya bisa geleng-geleng kepala.

Kamu langsung tersadar akan satu hal, yaitu membeli kopi lagi dari gerai tersebut dan memilih ukuran terbesar dan kafeinnya paling banyak. Sesampainya di meja kerjamu, seketika itu juga disesaplah kopimu agar kembali tenang dan fokus.

Ketika makan siang, kamu hanya membeli satu potong gorengan karena menyadari dompetmu mulai menipis. “Selama ada kopi di tanganku, aku akan merasa kenyang dan tenang!”, tukasmu untuk meyakinkan rekan kerjamu yang selalu khawatir akan kondisimu.

Dua jam berlalu, tiba-tiba HRD memanggilmu untuk berdiskusi soal performa kerjamu yang kian menurun. Setelah menghela napas yang panjang, ia memutuskan untuk memotong gajimu hingga kamu bisa bekerja lagi dengan maksimal. Tanpa mengubah raut wajahmu, setengah kopi kamu habiskan agar kamu memiliki tenaga untuk kembali ke meja kerjamu.

Waktu pulang sudah memanggil, tetapi atasanmu meminta untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan tenggat waktu esok hari. “Saya dengar semua dari HRD, jadi kamu tidak dapat uang lembur!”, pungkasnya sambil pergi meninggalkanmu di lorong kantor yang sepi. Setidaknya kamu bersyukur karena satu kopi masih ada di genggamanmu.


Pukul 2 pagi, kamu berada di taksi sembari menyesap kopimu hingga habis. Selama dalam perjalanan, kamu meminta kepada pengemudi taksi untuk berhenti sejenak di sebuah kedai kopi 24 jam. Tidak seperti biasanya, kamu merasa sangat senang hingga menitikkan air mata ketika berhasil mendapatkan kopi itu. Tanpa pikir panjang, kamu langsung melanjutkan perjalananmu ke kosan.

Sesampainya di kosmu, ternyata kamu baru menyadari bahwa banyak pesan masuk dari kerabatmu yang tidak dibaca karena fokus lembur. Ia marah-marah karena teman sepermainannya punya ponsel terkini dan memaksa kamu untuk segera membelikannya. Namun, kali ini kamu memilih untuk mengabaikan pesan itu dan duduk di atas tempat tidurmu.

Kamu memandangi tumpukan gelas kopi yang sudah dikumpulkan sejak kamu merantau ke ibu kota. Kamu punya orang tua di tempat kelahiranmu, tetapi mereka tidak begitu memperhatikan kamu dan memilih untuk meng-anak-emaskan adikmu yang jauh lebih sukses darimu.

Setelah kamu meletakkan semua gelas kopimu dari kantor dan yang terakhir, seketika itu juga kamu mengambil laptopmu dan mulai menuliskan pesan sebagai berikut:

Untuk kamu yang selalu menemaniku di sini, terima kasih sudah membuat aku menjadi lebih tenang dan berani menghadapi hari-hariku yang tidak mengenakkan.

Kamu tidak pernah mengeluh, marah-marah, bahkan mengecewakan aku. Hal positif yang ada pada dirimu selalu membuatku tetap bertahan, meskipun badai selalu menerpa.

Ya, kamu gelas kopi yang ada di hadapanku. Gelas kopi yang selalu menjadi wadah secangkir semangat, ketenangan, dan harapan. Aku berhutang banyak kepadamu. Sekali lagi, terima kasih banyak.


Seluruh penghuni kos berkumpul di depan pintu kamarmu. Mereka terheran-heran kenapa dirimu tidak kunjung keluar dari kamar selama 3 hari berturut-turut. Ketika menengok ke jendela kamarmu, mereka hanya melihat tumpukan gelas kopi yang berjejer rapi dari berbagai penjuru jendela.

Hari itu terasa ramai di kosan yang biasanya sepi, sembari diiringi dengan bau kopi yang lebih menyengat dari biasanya.

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.