Tidak Setuju? Tidak Masalah!

Biasanya, saya selalu mendengarkan musik sebelum bekerja atau memulai aktivitas. Namun, selama 2 minggu terakhir ini saya mencoba untuk mengubah kebiasaan tersebut menjadi mendengarkan siniar (podcast).

Berhubung ini adalah kebiasaan baru, maka saya jadi semangat untuk mencari dan berlangganan (follow atau subscribe) siniar sebanyak mungkin. Sebagian besar siniar yang saya dengarkan menggunakan bahasa Inggris dan hanya segelintir siniar dalam bahasa Indonesia, lebih tepatnya bisa dihitung dengan jari.

Kurang lebih seminggu yang lalu, saya menemukan siniar yang berjudul WordPress Briefing dari WordPress. Berhubung pada saat ini saya sedang berminat dengan proyek WordPress, maka siniar ini langsung menarik perhatian saya. Ketika sedang membuat tulisan, saya selalu mendengarkan siniar ini agar tetap fokus.

Dari sekian banyak episode siniar yang sudah terbit, ada satu episode yang membuat saya merenung cukup lama. Judul dari episode tersebut adalah “Finding the Good In Disagreement” yang bisa Anda dengarkan di bawah ini:

Episode siniar ini saya rekomendasikan bagi Anda yang kesehariannya berhadapan dengan banyak orang. Oh, iya. Berbicara soal merenung, saya langsung membuat catatan di laptop setelah mendengarkan siniar tersebut.


Sebagai manusia, saya terkadang merasa takut akan dua kata ini: “tidak setuju”. Sebuah ketakutan bahwa mereka yang tidak setuju dengan saya akan memusuhi dan mengancam hidup saya. Sayangnya hal itu pernah terjadi, serta itu juga yang sempat menjadikan saya enggan untuk berkata-kata dan berinteraksi dengan orang lain.

Pikiran saya berkecamuk hebat, sembari tak henti menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjadi sosok yang sempurna di mata orang lain. “Tidak setuju”, dua kata yang memiliki kekuatan untuk merubuhkan kepercayaan diri seseorang. Jika yang dimaksud seseorang itu adalah saya, memang benar.

Namun, lambat laun saya tersadar bahwa tidak setuju bisa menjadi sesuatu hal yang positif. “Tidak setuju” bisa menjadi sebuah respon terhadap apa yang kita berikan kepada mereka, serta sebagai bentuk perhatian mereka akan hal yang kita kerjakan. Hal yang terpenting: asalkan dalam batas wajar.

Memang benar bahwa tidak semua “tidak setuju” itu baik adanya, serta tak jarang hal itu sekadar digunakan untuk melukai perasaan orang lain. Terlepas dari semua itu, mereka yang “tidak setuju” memiliki alasan tersendiri bahwa sesuatu yang kita lakukan berpotensi merugikan dan harus diperbaiki segera mungkin.

Jika tidak peduli, maka mereka tidak akan menghabiskan waktunya untuk “tidak setuju”. Justru dengan “tidak setuju” itulah, mereka menyisihkan sedikit waktunya untuk menyadarkan kita. Perhatian tak harus selalu datang dari “setuju”, serta terkadang hal konstruktif bisa datang dari “tidak setuju”.

Saya masih hidup dan senantiasa berusaha untuk berdampingan dengan “tidak setuju”. Bisa saja dalam satu hal saya menjadi jauh dengannya, tetapi saya akan mencoba kembali untuk dekat dan terus berdampingan dengannya. Saya manusia, izinkan saya untuk berusaha lebih baik lagi.


Kalau boleh jujur, awalnya saya tidak memiliki rencana untuk menyertakan “curhatan” di dalam tulisan ini. Namun, pada akhirnya saya memutuskan untuk menambahkannya agar bisa menjadi amal jariah bagi sesama. Toh, saya percaya bahwa sebuah tulisan bisa membawa dampak bagi orang lain.

Sebelum tulisan ini terbit, adik saya sempat menengok draf (tulisan) ini dan ia berpendapat bahwa tidak sepatutnya hal yang bersifat pribadi dibaca oleh orang lain. Saya tidak setuju akan pendapatnya, karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan unsur pribadi agar layak dibaca oleh orang lain.

Jika Anda membaca tulisan ini, ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, dipastikan bahwa tulisan ini sudah terbit. Kedua, saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membacanya dan membuktikan kepada adik saya bahwa tulisan ini layak untuk dibaca umum.

“Tidak setuju? Tidak masalah!”, gumam saya dalam hati.

2 tanggapan

  1. salah satu tantangan bagi orang Indonesia adalah ini, “berkata tidak” dan “menerima penolakan” dari orang lain. biasanya kita, orang Indonesia, cenderung cari aman, dengan “setuju” padahal dalam hati bertolak belakang.

    beda dengan orang bule, yang bisa sangat frontal menyatakan ketidaksetujuannya, yang bagi kita yang tidak terbiasa, terdengar “kasar”..

    tapi lagi-lagi, “agree for disagree” bukanlah hal mudah untuk dilakukan.

    1. Ketika saya berinteraksi dengan rekan kerja saya dari luar negeri, bisa dibilang saya banyak berhadapan dengan momen “tidak setuju” tersebut. Namun, mereka semua menyampaikannya dengan baik dan konstruktif. Alih-alih merasa takut dan rendah diri, saya menjadi lebih yakin dengan pekerjaan sekaligus mendapatkan masukan yang membangun.

      Saya setuju dengan pendapat Anda bahwa kita cenderung untuk tidak membiasakan diri dengan “tidak setuju” maupun penolakan, serta mencari aman dengan berkata sebaliknya (baca: setuju).

      Oh, iya. Terima kasih atas komentar dan kunjungannya. 🙏

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.