Beberapa hari lalu, terlintas di dalam benak untuk iseng membuka X/Twitter milik saya sendiri yang sudah lama tak tersentuh. Tidak disangka, pos yang muncul pertama kali di lini masa saya adalah kabar bahagia ini.
Lama tidak bersua secara langsung dengan beliau, saya dipertemukan kembali melalui pos tersebut.
Ia merupakan VTuber yang berfokus dengan konten kedokteran dan kesehatan, serta berprofesi sebagai dokter di dunia nyata. Akhir-akhir ini saya menonton konten beliau sebagai silent viewer karena faktor kesibukan, tidak seperti dahulu yang aktif berkomentar di kolom obrolan (chat).
Saya bisa berkata pengumuman di X/Twitter tersebut menjadi viral karena telah menjangkau pengguna di luar lingkar dunia per-VTuber-an. Semua yang berkomentar mengucapkan selamat dan mengungkapkan rasa bahagia mereka.
Bagaikan oase di tengah lautan pos X/Twitter yang riuh, saya pun turut merasakan kebahagiaan itu.
Setahun yang lalu, saya pernah mengekspresikan rasa senang ketika handai tolan sudah melepaskan masa lajangnya. Di antara banyaknya rekan yang memutuskan untuk berumah tangga, awalnya saya merasa iri akan hal tersebut. Namun, pada akhirnya saya turut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.
Hingga saat tulisan ini dibuat, saya masih menikmati masa lajang dan tetap bahagia akan pilihan itu. Saya tidak mau lagi dikendalikan oleh ekspektasi sosial untuk menikah di usia sekian, karena sejatinya setiap individu punya idealnya masing-masing.
Jujur saja, kadang saya merasakan kesepian dalam beberapa kesempatan. Namun, saya memiliki rekan dan sahabat dekat yang selalu bersedia untuk diajak bertemu secara tatap muka. Bagi saya, kunci untuk menghilangkan rasa kesepian adalah tetap berinteraksi dengan mereka dan orang lain yang saya temui.
Dari interaksi tersebut, saya juga mendapat insight baru yang bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari. Intinya, semua itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Mengutip lagu dari Koes Plus yang berjudul Bujangan, lirik ini sesuai untuk saya:
“Begini nasib jadi bujangan
Ke mana-mana asalkan suka
Tiada orang yang melarang”
Selama masih bujangan atau lajang, saya bisa berkelana dan bertemu dengan siapa saja tanpa ada beban yang berarti. Kesempatan ini akan saya gunakan untuk berinteraksi, belajar, dan bertumbuh agar sebagai bekal dalam tahap hidup selanjutnya.
Inilah alasannya mengapa saya sangat senang mengikuti konferensi, lokakarya, dan pertemuan lainnya secara tatap muka.
Namun, saya tidak setuju dengan bagian lirik ini:
“Hati senang walaupun tak punya uang, oh
Hati senang walaupun tak punya uang”
Mau sampai kapan pun, saya tidak akan pernah merasa senang jika tidak punya uang. 😅
Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Ruki Yahea dan Ditanyaan yang telah sah menjadi pasangan suami istri. Saya doakan agar bahtera rumah tangga kalian senantiasa tetap teguh dan bahagia selalu hingga akhir hayat.
Teruntuk Ruki, aku merasa bahagia dengan segala sesuatu yang dirimu telah raih. Semoga senantiasa diberikan yang terbaik dalam hidup, Nak.
Kebahagian kalian adalah kebahagiaan kami juga. 🎉
Tahniah!
Muditā (bahasa Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मुदिता) adalah konsep Buddhisme tentang apresiasi simpatik, yaitu sikap batin yang secara tulus mengapresiasi keberhasilan atau kesejahteraan orang lain.

Tinggalkan komentar Anda